Ujung kuas mengukir gurat senyumnya
Garis macam apakah yang akan kulukis ?
Jika wajahnya tak kukenal.
Namun hadirnya menembus dinding kehampaan
Kekosongan adalah sebenarnya
Kegelapan rupa wajahnya
Karena kepekatan seseungguhnya merupakan dirinya
Kusentuh ribuan bahkan jutaan tanya yang berpisah dengan jawab
Berharap tanya itu menemukan jawab suatu saat
Kurasakan perih mengiris hati
Kubayangkan dia yang mengalami
Kutawarkan perban penekan luka
Kukatakan semuanya will be OK
Hati terasa lapang
Kuraih senyunnya untukku
Kehampaan di telapak tanganku
Ujung kuas hitam masih mencoba melukis lekuk tipis rautnya
Entah sampai kapan terus kulakukan
Namun akan terus kulakukan
Kunamakan itu sebuah episode bernama asa
Taukah kau ?
Sebelum kau jumpa akan dirimu telah tersimpan bayang senyummu dalam lubuk hatiku
Telah kau ukir akanmu di relung hatiku
Tanpa kutahu kapan kau datang
Ukiran akanmu yang terus menghantuiku,
Untuk percya bahwa semua ini memang tercipta untuk diriku
Dan sebelum bayang senyum itu singgah, aku telah mencintaimu
Lalu,
Tak salah jika bayang senyummu kubiarkan menghantuiku
Yang kuyakini suatu saat berubah menjadi guratan
Gurat demi gurat menjelma sebuah keberadaan
Keberadaan seorang makhluk
Atau malaikat ?
Aku tak tahu
Yang kutahu, dirimu ada entah dimana
Yang kemudian mendatangiku
Mengajakku duduk melukis pelangi tanpa hujan.



mmm nice poem..
tapi aq belum ketemu benang merahnya tuh? bisa dibantu? sedikit berputar2, objek explorasi kurang fokus.
…
tentu aku gak akan nulis yang gak ada benang merahnya kan?!
intinya kata guru bahasa indonesiaku, semua puisi itu tergantung pada penafsiran masing2 individu.
uhm…
ikhwan boleh menikmati syair diataskah??
yupz..
Puisi yang bagus